kuantar kau tidur malam ini anakku
seperti biasa bersama-sama kita ucapkan doa sebelum tidur sambil tanganmu melingkar di leherku
engkau tersenyum anakku
matamu menatapku bening dan bahagia
engkau sudah melupakan kebingungan di hati jika aku marah kepadamu
karena engkau tidak turut perintahku
kulontarkan kata-kata yang tajam
kata-kata yang mengkritisi
berapa banyak, nak
yang menancap di hatimu hingga hatimu berdarah tapi engkau tidak gentar kepadaku
padahal tadi siang aku menatapmu dengan panasnya amarah hanya karena masalah sepele
yang bahkan akupun tahu kau tidak bermaksud melakukan itu
namun berapa banyak
berapa banyak benih cinta didapatiku yang hangus karena tatapanku, nak
tapi engkau tidak pernah jera untuk mencintaiku
sementara tadi sore engkau tertunduk saat aku tuding engkau
sebab kurasa kau tak memperhatikan kata-kataku
tertumpah ombak menembus ke rusuk dalam jantungmu, nak
tapi engkau tetap cari aku untuk memelukku
di saat makan malam tadi aku menghukummu
karena engkau tidak habiskan makananmu yang kubilang dibiayai dengan susah payah
menyusutkah rasa sayang dalam kantong jiwamu karenanya, nak
malam ini kutemani engkau tidur seperti biasa
bersama di tautan dan doa reduksi yang biasa kan menyikapi energi
engkau tersenyum
matamu yang mengantuk menatapku bening dan bahagia
air mataku mengalir saat engkau terpejam dengan senyumku
malam ini diri dan tanganmu masih memeluk leherku
aku mohon maaf padamu, nak
ajari aku untuk mencintaimu seperti engkau mencintaiku
(Taken from: Tausyiah Aa' Gym (Senin,26 Juli 2010, bertempat di Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia Jakarta)

No comments:
Post a Comment